Rabu, 12 Agustus 2009

Photo Galeri










Minggu, 2009 Mei 24

Susahnya Mencari Guru

Untuk mencari tenaga pendidik yang benar2 mencintai pekerjaan sebagai guru sekarang ini sulit, kebanyakan yang menjadi tenaga honorer maupun kontrak saat ini hanya sebagai batu loncatan saja.yang menjadi kendala saat ini untuk menjadi guru di SD, hampir semua lulusan Sarjana yang saat ini mengajar di SD dari berbagai disiplin ilmu setelah lulus menjadi PNS itu semua pindah ke SLTP maupun SLTA, otomatis kembali di SD akan terjadi stagnasi kekurangan guru.kalau gw. punya pandangan untuk SD sebaiknya ada sekolh kejuruan seperti jaman SGA maupun SPG dulu sangat effektif untuk mengajar di TK maupun SD, sekarang mungkin SMK Plus yang khusus nantinya diangkat menjadi guru SD.coba sekarang hampir semua guru SD diseluruh tanah air mayoritas hampir lulusan dari SPG, itu yang ebnar mencintai pekerjaannya tidak tergiur pindah ke SLTP maupun SLTA walaupun sekarang sudah menyandang gelar Sarjana

Senin, 2009 Mei 18

Laskar Palangi

Film Laskar Pelangi yang menceritakan perjuangan guru dan 10 siswa di Belitong, Bangka Belitung, akan mengawali Festival Film Indonesia 2009 di Praha, Republik Ceko, Selasa malam.Festival film dengan tema Retrospektif Film Riri Riza, yang berlangsung di City Library Hall Praha hingga tanggal 21 Mei mendatang itu mendapat perhatian dari pemenang Oscar dari Ceko Jiri Menzel, kata Sekretaris Satu KBRI Praha Azis Nurwahyudi kepada koresponden Antara London, Senin.Menurut Azis, untuk pembukaan acara tersebut, KBRI Praha mengundang pejabat pemerintah, kalangan diplomatik, sineas Ceko, mahasiswa sekolah perfilman, dan publik.Acara pembukaan festival film Indonesia dilangsungkan diskusi dengan Riri Riza mengenai perfilman Indonesia dan karya-karyanya yang juga akan diikuti Jiri Menzel.Azis mengatakan film karya Riri Riza ini mendapat perhatian khusus pemenang Oscar dari Ceko, Jiri Menzel yang menyatakan rasa bangga dan hormat karena menjadi patron Festival Film Indonesia 2009.Dukungan Jiri Menzel, sutradara kenamaan peraih Oscar dalam film Closely Watched Trains (Ostre sledovane vlaky), diberikan kepada Riri Riza setelah melihat film karya sutradara muda tersebut yang dinilainya memberikan ajaran nilai-nilai yang positif.Menzel juga menilai pantas jika film Laskar Pelangi mendapat banyak penghargaan karena memang film tersebut menarik dan terbukti ditonton jutaan orang.Duta Besar RI untuk Republik Ceko, Salim Said, yang mencetuskan ide festival film sebagai salah satu diplomasi budaya di negara yang dulu bernama Cekoslawakia itu menyatakan bahwa Festival Film Indonesia digelar untuk yang ketiga kalinya oleh KBRI Praha.Kali ini festival film ini mengambil tema khusus perjalanan film Riri Riza yang sudah mendapat pengakuan internasional karena mampu bersaing dengan karya-karya sineas asing, ujar budayawan.Dubes Salim Said yang juga kritikus film, menjelaskan sejarah dan perkembangan sinematografi Indonesia sejak awal abad kedua puluh, termasuk pembuatan film "Aksi Kalimantan" hasil kerja sama antara Indonesia dan Ceko(slovakia) pada tahun 1962.Selain itu juga akan digelar kerja sama antara Institut Kesenian Jakarta dengan Akademi Seni Ceko, yang mancakup kerja sama bidang Film dan Teater.Selain Laskar Pelangi, karya Riri Riza yang akan diputar adalah Gie, Eliana-Eliana, Petualangan Sherina, Untuk Rena dan 3 Hari Untuk Selamanya.Selain di Praha, film Laskar Pelangi secara khusus akan diputar di Sekolah Film Zlin, karena setiap tahun di kota tersebut diselenggarakan Festival Film Internasional untuk film cerita anak-anak dan remaja. Riri Riza secara khusus telah diundang untuk berdiskusi dengan para siswanya. Pada festival film kali ini KBRI Praha menggandeng perwakilan Indonesia lainnya di Eropa yakni di Wina, Beograd dan Hamburg.Pelaksanaan Festival Film Indonesia pada tahun ini juga didukung oleh Direktorat Film Debudpar, Miles Production, Sabila Center for Competitiveness, Kompas Gramedia, Nu Green Tea, Imeco, Binus University dan Jamsostek.

Pada tanggal 6 Agustus 1945 sebuah bom atom dijatuhkan di atas kota HiroshimaAmerika Serikat yang mulai menurunkan moral semangat tentara Jepang di seluruh dunia. Sehari kemudian Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia BPUPKI, atau "Dokuritsu Junbi Cosakai", berganti nama menjadi PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) atau disebut juga Dokuritu Junbi Inkai dalam bahasa Jepang, untuk lebih menegaskan keinginan dan tujuan mencapai kemerdekaan Indonesia. Pada tanggal 9 Agustus 1945, bom atom kedua dijatuhkan di atas Nagasaki sehingga menyebabkan Jepang menyerah kepada Amerika Serikat dan sekutunya. Momen ini pun dimanfaatkan oleh Indonesia untuk memproklamasikan kemerdekaannya. Jepang oleh

Soekarno, Hatta selaku pimpinan PPKI dan Radjiman Wedyodiningrat sebagai mantan ketua BPUPKI diterbangkan ke Dalat, 250 km di sebelah timur laut Saigon, Vietnam untuk bertemu Marsekal Terauchi. Mereka dikabarkan bahwa pasukan Jepang sedang di ambang kekalahan dan akan memberikan kemerdekaan kepada Indonesia. Sementara itu di Indonesia, pada tanggal 14 Agustus 1945, Sutan Syahrir telah mendengar berita lewat radio bahwa Jepang telah menyerah kepada Sekutu. Para pejuang bawah tanah bersiap-siap memproklamasikan kemerdekaan RI, dan menolak bentuk kemerdekaan yang diberikan sebagai hadiah Jepang.

Pada tanggal 12 Agustus 1945, Jepang melalui Marsekal Terauchi di Dalat, Vietnam, mengatakan kepada Soekarno, Hatta dan Radjiman bahwa pemerintah Jepang akan segera memberikan kemerdekaan kepada Indonesia dan proklamasi kemerdekaan dapat dilaksanakan dalam beberapa hari, tergantung cara kerja PPKI.[1] Meskipun demikian Jepang menginginkan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 24 Agustus.

Dua hari kemudian, saat Soekarno, Hatta dan Radjiman kembali ke tanah air dari Dalat, Sutan Syahrir mendesak agar Soekarno segera memproklamasikan kemerdekaan karena menganggap hasil pertemuan di Dalat sebagai tipu muslihat Jepang, karena Jepang setiap saat sudah harus menyerah kepada Sekutu dan demi menghindari perpecahan dalam kubu nasionalis, antara yang anti dan pro Jepang. Hatta menceritakan kepada Syahrir tentang hasil pertemuan di Dalat. Soekarno belum yakin bahwa Jepang memang telah menyerah, dan proklamasi kemerdekaan RI saat itu dapat menimbulkan pertumpahan darah yang besar, dan dapat berakibat sangat fatal jika para pejuang Indonesia belum siap. Soekarno mengingatkan Hatta bahwa Syahrir tidak berhak memproklamasikan kemerdekaan karena itu adalah hak Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Sementara itu Syahrir menganggap PPKI adalah badan buatan Jepang dan proklamasi kemerdekaan oleh PPKI hanya merupakan 'hadiah' dari Jepang (sic).

Pada tanggal 14 Agustus 1945 Jepang menyerah kepada Sekutu. Tentara dan Angkatan Laut Jepang masih berkuasa di Indonesia karena Jepang telah berjanji akan mengembalikan kekuasaan di Indonesia ke tangan Sekutu. Sutan Sjahrir, Wikana, Darwis, dan Chaerul Saleh mendengar kabar ini melalui radio BBC. Setelah mendengar desas-desus Jepang bakal bertekuk lutut, golongan muda mendesak golongan tua untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Namun golongan tua tidak ingin terburu-buru. Mereka tidak menginginkan terjadinya pertumpahan darah pada saat proklamasi. Konsultasi pun dilakukan dalam bentuk rapat PPKI. Golongan muda tidak menyetujui rapat itu, mengingat PPKI adalah sebuah badan yang dibentuk oleh Jepang. Mereka menginginkan kemerdekaan atas usaha bangsa kita sendiri, bukan pemberian Jepang.

Soekarno dan Hatta mendatangi penguasa militer Jepang (Gunsei) untuk memperoleh konfirmasi di kantornya di Koningsplein (Medan Merdeka). Tapi kantor tersebut kosong.

Soekarno dan Hatta bersama Soebardjo kemudian ke kantor Bukanfu, Laksamana Muda Maeda, di Jalan Medan Merdeka Utara (Rumah Maeda di Jl Imam Bonjol 1). Maeda menyambut kedatangan mereka dengan ucapan selamat atas keberhasilan mereka di Dalat. Sambil menjawab ia belum menerima konfirmasi serta masih menunggu instruksi dari Tokyo. Sepulang dari Maeda, Soekarno dan Hatta segera mempersiapkan pertemuan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) pada pukul 10 pagi 16 Agustus keesokan harinya di kantor Jalan Pejambon No 2 guna membicarakan segala sesuatu yang berhubungan dengan persiapan Proklamasi Kemerdekaan.

Sehari kemudian, gejolak tekanan yang menghendaki pengambilalihan kekuasaan oleh Indonesia makin memuncak dilancarkan para pemuda dari beberapa golongan. Rapat PPKI pada 16 Agustus pukul 10 pagi tidak dilaksanakan karena Soekarno dan Hatta tidak muncul. Peserta rapat tidak tahu telah terjadi peristiwa Rengasdengklok.

[sunting] Peristiwa Rengasdengklok

!Artikel utama untuk bagian ini adalah: peristiwa Rengasdengklok


Para pemuda pejuang, termasuk Chaerul Saleh, Sukarni, dan Wikana --yang konon kabarnya terbakar gelora heroismenya setelah berdiskusi dengan Ibrahim gelar Datuk Tan Malaka --yang tergabung dalam gerakan bawah tanah kehilangan kesabaran, dan pada dini hari tanggal 16 Agustus 1945. Bersama Shodanco Singgih, salah seorang anggota PETA, dan pemuda lain, mereka membawa Soekarno (bersama Fatmawati dan Guntur yang baru berusia 9 bulan) dan Hatta, ke Rengasdengklok, yang kemudian terkenal sebagai peristiwa Rengasdengklok. Tujuannya adalah agar Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta tidak terpengaruh oleh Jepang. Di sini, mereka kembali meyakinkan Soekarno bahwa Jepang telah menyerah dan para pejuang telah siap untuk melawan Jepang, apa pun risikonya.

Di Jakarta, golongan muda, Wikana, dan golongan tua, yaitu Mr. Ahmad Soebardjo melakukan perundingan. Mr. Ahmad Soebardjo menyetujui untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia di Jakarta. maka diutuslah Yusuf Kunto untuk mengantar Ahmad Soebardjo ke Rengasdengklok. Mereka menjemput Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta kembali ke Jakarta. Mr. Ahmad Soebardjo berhasil meyakinkan para pemuda untuk tidak terburu - buru memproklamasikan kemerdekaan. Setelah tiba di Jakarta, mereka pulang kerumah masing-masing. Mengingat bahwa hotel Des Indes (sekarang kompleks pertokoan di Harmoni) tidak dapat digunakan untuk pertemuan setelah pukul 10 malam, maka tawaran Laksamana Muda Maeda untuk menggunakan rumahnya (sekarang gedung museum perumusan teks proklamasi) sebagai tempat rapat PPKI diterima oleh para tokoh Indonesia.

[sunting] Pertemuan Soekarno/Hatta dengan Jenderal Mayor Nishimura dan Laksamana Muda Maeda

Malam harinya, Soekarno dan Hatta kembali ke Jakarta. Mayor Jenderal Moichiro Yamamoto, Kepala Staf Tentara ke XVI (Angkatan Darat) yang menjadi Kepala pemerintahan militer Jepang (Gunseikan) di Hindia Belanda tidak mau menerima Sukarno-Hatta yang diantar oleh Maeda Tadashi dan memerintahkan agar Mayor Jenderal Otoshi Nishimura, Kepala Departemen Urusan Umum pemerintahan militer Jepang, untuk menerima kedatangan rombongan tersebut. Nishimura mengemukakan bahwa sejak siang hari tanggal 16 Agustus 1945 telah diterima perintah dari Tokio bahwa Jepang harus menjaga status quo, tidak dapat memberi ijin untuk mempersiapkan proklamasi Kemerdekaan Indonesia sebagaimana telah dijanjikan oleh Marsekal Terauchi di Dalat, Vietnam. Soekarno dan Hatta menyesali keputusan itu dan menyindir Nishimura apakah itu sikap seorang perwira yang bersemangat Bushido, ingkar janji agar dikasihani oleh Sekutu. Akhirnya Sukarno-Hatta meminta agar Nishimura jangan menghalangi kerja PPKI, mungkin dengan cara pura-pura tidak tau. Melihat perdebatan yang panas itu Maeda dengan diam-diam meninggalkan ruangan karena diperingatkan oleh Nishimura agar Maeda mematuhi perintah Tokio dan dia mengetahui sebagai perwira penghubung Angkatan Laut (Kaigun) di daerah Angkatan Darat (Rikugun) dia tidak punya wewenang memutuskan.

Setelah dari rumah Nishimura, Sukarno-Hatta menuju rumah Laksamana MaedaProklamasi. Setelah menyapa Sukarno-Hatta yang ditinggalkan berdebat dengan Nishimura, Maeda mengundurkan diri menuju kamar tidurnya. Penyusunan teks Proklamasi dilakukan oleh Soekarno, M. Hatta, Achmad Soebardjo dan disaksikan oleh Soekarni, B.M. Diah, Sudiro (Mbah) dan Sayuti Melik. Myoshi yang setengah mabuk duduk di kursi belakang mendengarkan penyusunan teks tersebut tetapi kemudian ada kalimat dari Shigetada Nishijima seolah-olah dia ikut mencampuri penyusunan teks proklamasi dan menyarankan agar pemindahan kekuasaan itu hanya berarti kekuasaan administratif. Tentang hal ini Bung Karno menegaskan bahwa pemindahan kekuasaan itu berarti "transfer of power". Bung Hatta, Subardjo, B.M Diah, Sukarni, Sudiro dan Sajuti Malik tidak ada yang membenarkan klaim Nishijima tetapi di beberapa kalangan klaim Nishijima masih didengungkan. (kini Jalan Imam Bonjol No.1) diiringi oleh Myoshi guna melakukan rapat untuk menyiapkan teks

Setelah konsep selesai disepakati, Sajuti menyalin dan mengetik naskah tersebut menggunakan mesin ketik yang diambil dari kantor perwakilan AL Jerman, milik Mayor (Laut) Dr. Hermann Kandeler.[2] Pada awalnya pembacaan proklamasi akan dilakukan di Lapangan Ikada, namun berhubung alasan keamanan dipindahkan ke kediaman Soekarno, Jalan Pegangsaan Timur 56[3] (sekarang Jl. Proklamasi no. 1).

Walaupun sedang tinggal jauh di negeri orang, hari kemerdekaan negeri sendiri tetap harus dirayakan semeriah mungkin. Maka dari itu, KJRI Hamburg tidak pernah lupa untuk memfasilitasi masyarakat Indonesia yang tinggal di Hamburg untuk selalu memeriahkan hari-hari menjelang hari kemerdekaan 17 Agustus dengan perlombaan-perlombaan khas 17-an. Ada balap karung, makan kerupuk, tarik tambang, memasukkan pinsil ke botol, membawa bola pingpong di sendok, catur, gaple, play station, badminton, bola voli, tenis meja, dan futsal.

Supaya lomba-lomba yang diadakan oleh KJRI itu bisa diikuti oleh masyarakat Indonesia yang ada di Hamburg, maka penyelenggaraannya dipilih pada hari Minggu. Non-stop dari pagi sampai sore hari. Lomba badminton, bola voli, tenis meja, dan futsal diadakan pada hari Minggu, 23 Juli 2006 di Alsterdorf Sporthalle, sedangkan lomba tarik tambang, balap karung, makan kerupuk, memasukkan pinsil ke botol, membawa bola pingpong di sendok, catur, gaple, dan playstation diadakan pada hari Minggu 30 Juli 2006 di KJRI Hamburg.

Lomba-lomba sudah pasti berjalan seru, maklum acara ini kan cuman berlangsung satu tahun sekali, sayang juga kan kalau dilewatkan begitu saja? Nah saking antusiasnya masyarakat ikutan lomba, satu orang bisa sampai ikutan semua lomba, padahal supaya menghemat waktu, panitia maunya acara lomba bisa berlangsung paralel. Makanya kadangkala ada saja kejadian yang kocak. Orang yang harusnya bertanding tenis meja, ketika dipanggil eh ternyata masih main badminton. Ada juga tim yang dibentuk secara mendadak, seperti pada pertandingan bola voli dan futsal. Dan yang lebih lucu lagi, ada satu orang yang menjadi anggota dari tim yang berbeda, dan sialnya lagi kedua tim yang diperkuatnya itu masuk ke babak berikutnya dan harus saling bertemu. Akibatnya, kedua tim tersebut harus memperebutkan orang itu, dan tim yang akhirnya tidak mendapatkan orang itu harus sibuk merekrut anggota baru. Kalau sudah begini, panitia hanya bisa ketawa ngakak…

Anak-anak termasuk yang antusias mengikuti lomba-lomba tradisional seperti tarik tambang, makan kerupuk, balap karung, memasukkan pinsil ke botol, dan membawa bola pingpong di sendok. Sama seperti pada kasus pertandingan olahraga, semua anak pun ingin bisa ikut dalam semua pertandingan yang ada. Nggak perlu jadi juara, yang penting seneng dan meriah! Apalagi kebetulan cuaca di Hamburg juga lagi cerah. Dan yang lebih seru lagi, cewek dan cowok saling bersaing dalam lomba yang sama. Kesetaraan gender pokoknya lah! hehehe…

Ibu-ibu juga termasuk yang nggak rela melewatkan lomba tarik tambang, meskipun sehabis ikutan lomba itu badan jadi pegel-pegel dan terpaksa suami harus turun tangan mijetin malam harinya :) .

Oh iya, menurut anak-anak yang ikut lomba, lomba makan kerupuk termasuk yang paling susah. Bukan karena kerupuknya digantung terlalu tinggi, juga bukan karena kerupuknya terlalu besar, tapi karena kerupuknya agak alot dan melempem. hahaha… Mungkin seharusnya panitia nyediainnya kerupuk Palembang yang renyah dan gurih.

Lomba 17-an memang selalu seru! Apalagi buat kita-kita yang tinggal di negeri orang.